Mengintip Bisnis Alat Kesehatan
23:20
Sejumlah rumah sakit besar mulai gencar berinvestasi alat-alat kesehatan (Alkes) berteknologi canggih. Filosofinya tak lain untuk menekan “gaya hidup” berobat ke luar negeri, dengan dalih kecanggihan peralatan medis serta kualitas layanannya. Marilah kita ambil beberapa contoh rumah sakit besar yang mengadopsi peralatan canggih untuk men-support kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Mereka antara lain adalah RS Honoris, Siloam Gleneagles (Lippo group), Mitra Keluarga, Metropolitan Medical Centre (MMC), Medistra (Astra Group), Graha Medika, Ongkomulyo Medical Centre (OMC), dan sebagainya.
Pasar Alkes Indonesia
Asisten Deputi urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), Dr. Roy Sparingga MAPPSc menggambarkan, pasar Alkes elektronik di tanah air masih dikuasai impor (80-85 %), alat dan bahan habis pakai (consumables) 55 %, sedangkan instrumen medis (hospital furniture) hanya 5-10 % dari total bisnis alkes Indonesia.
Ketua Asosiasi Industri Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), Ade Tarya Hidayat, menambahkan, “Pasar Alkes global dunia US$ 180 miliar, Amerika Serikat (AS) US$ 85 miliar, pasar Asia (kecuali Jepang dan Tiongkok) US$ 18 miliar, dan pasar Indonesia US$ 1,7 miliar.”
Kondisi tersebut menggambarkan, betapa industri alkes memiliki progress peningkatan dan kehadirannya selalu ditunggu. Bila pun ada keterbatasan teknologi dan daya saing yang rendah, hal tersebut bukan lantas mematikan produktivitas pebisnis peralatan medis lokal. Hanya saja, kualitas perlu dikedepankan untuk mengejar ketinggalan mutu dibandingkan dengan barang-barang impor.
sumber: majalah pharmabiz indonesia
Pasar Alkes Indonesia
Asisten Deputi urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), Dr. Roy Sparingga MAPPSc menggambarkan, pasar Alkes elektronik di tanah air masih dikuasai impor (80-85 %), alat dan bahan habis pakai (consumables) 55 %, sedangkan instrumen medis (hospital furniture) hanya 5-10 % dari total bisnis alkes Indonesia.
Ketua Asosiasi Industri Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), Ade Tarya Hidayat, menambahkan, “Pasar Alkes global dunia US$ 180 miliar, Amerika Serikat (AS) US$ 85 miliar, pasar Asia (kecuali Jepang dan Tiongkok) US$ 18 miliar, dan pasar Indonesia US$ 1,7 miliar.”
Kondisi tersebut menggambarkan, betapa industri alkes memiliki progress peningkatan dan kehadirannya selalu ditunggu. Bila pun ada keterbatasan teknologi dan daya saing yang rendah, hal tersebut bukan lantas mematikan produktivitas pebisnis peralatan medis lokal. Hanya saja, kualitas perlu dikedepankan untuk mengejar ketinggalan mutu dibandingkan dengan barang-barang impor.
sumber: majalah pharmabiz indonesia
5 Besar Perusahaan Penghasil Obat Generik
23:18
Obat generik di tanah air ternyata pasarnya dikuasai oleh perusahaan swasta. Sebagai contoh, menurut survei IPA-IHPA 2007 (Indian Pharmaceutical Association-Indian Hospital Pharmacist Association), PT Dexa Medica berhasil menempati urutan pertama dalam perolehan pangsa pasar obat generik bermerek, yakni sebesar 15,73%. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh 2 BUMN farmasi, Indofarma (12,69%) dan Kimia Farma (8,60%). Di tempat ketiga ada Hexpharm Jaya (4,72%) dan kelima, Sanbe Farma (3,20%). Dexa yang mengusung produknya dengan OGBDexa, saat ini telah memiliki 90 item produk yang terdiri dari sediaan oral (tablet, kapsul, sirup), sediaan injeksi (ampul, vial, infus), maupun sediaan tropikal (krim), sementara sejak dicanangkan pemerintah, jumlah OGB kini telah mencapai lebih dari 455 item. Kenyataan ini agak mengherankan, mengingat pemerintah yang gencar mengkampanyekan pemakaian obat generik tapi ternyata produksinya belum dikuasai negara.
Sejak krisis global yang mengakibatkan kurs dolar mengalami lonjakan, beberapa BUMN farmasi telah menderita kerugian miliaran rupiah akibat selisih kurs dollar, karena pasokan bahan baku yang dilakukan pada tahun sebelumnya, menjelang jatuh tempo mengalami perubahan harga yang sangat signifikan. Hal ini membuat ketersediaan dana cash tergerus sehingga produksi obat terhambat, sementara untuk menghentikan produksi akan memukul kerugian yang jauh lebih hebat dari sisi pabrik, disamping komitmen terhadap masyarakat untuk menyediakan obat-obatan yang terjangkau. Ini baru sekian masalah yang membayang dari seribusatu masalah yang akan dihadapi BUMN farmasi.
sumber: majalah pharmabiz indonesia
WHO : Flu Babi Punya Potensi Pandemi
22:25
Penyebaran Flu Babi di Meksiko dan Amerika Serikat memiliki potensi menjadi pandemi dunia namun masih terlalu dini apakah itu betul akan terjadi atau tidak, kata Pimpinan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Sabtu.
"Itu (Flu Babi) memiliki potensi pandemi karena itu menginfeksi orang," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan.
Tipe baru flu itu --gabungan antara virus babi, manusia, unggas yang telah menewaskan 68 orang dari 1.004 orang yang diduga terjangkit di Meksiko dan menginfeksi delapan orang di Amerika Serikat-- masih sedikit dipahami dan situasinya berkembang sangat cepat, kata Chan.
(http://www.antara.co.id/arc/2009/4/25/who--flu-babi-punya-potensi-pandemi/)
"Itu (Flu Babi) memiliki potensi pandemi karena itu menginfeksi orang," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan.
Tipe baru flu itu --gabungan antara virus babi, manusia, unggas yang telah menewaskan 68 orang dari 1.004 orang yang diduga terjangkit di Meksiko dan menginfeksi delapan orang di Amerika Serikat-- masih sedikit dipahami dan situasinya berkembang sangat cepat, kata Chan.
(http://www.antara.co.id/arc/2009/4/25/who--flu-babi-punya-potensi-pandemi/)
Kiat Bisnis Ritel Farmasi Indonesia Saat Krisis
02:09
Bisnis ritel farmasi di Indonesia mesti segera menata diri agar mampu melepaskan diri dari kesulitan saat krisis, seperti saat ini. Para pelaku bisnis ritel farmasi adalah apotek dan toko obat, baik yang konvensional maupun modern. Kompetisi pada peritel level konvensional adalah sensitifnya masalah harga. Sementara peritel modern bersaing pada basis yang lebih kompleks, yakni dengan memasukkan banyak strategi bisnis dan meningkatkan pelayanan. Di masa krisis seperti sekarang, kompetisi berlangsung lebih keras. Naiknya harga obat bukan tidak mungkin menyebabkan beralihnya konsumen ke "level dua" yang mungkin menyediakan harga obat lebih masuk akal. Apalagi tren saat ini muncul obat-obatan alternatif, seperti jamu/herbal atau obat Cina yang banyak juga penggemarnya. Nah, kalau tidak hati-hati bisnis ritel farmasi bisa kehabisan nafas.
Dalam majalah Pharmabiz edisi 01/2009 terdapat artikel mengenai poin-poin dan kiat untuk memajukan bisnis ritel, khususnya di bidang farmasi. Di sini dijelaskan juga tentang apa saja yang harus diperhatikan pada situasi yang serba "mengencangkan ikat pinggang" ini. Salah satunya adalah memahami peraturan pemerintah dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Jangan sampai bisnis jadi rugi karena tak mengerti seluk-beluk aturan bisnis di Indonesia. Poin lain yang juga sangat penting adalah pengembangan IT untuk membantu memaksimalkan kinerja perusahaan. Jadi, sebaiknya tidak ada lagi pebisnis farmasi yang gaptek, alias gagap teknologi. Kiat-kiat lainnya masih banyak dan tinggal disesuaikan dengan bisnis masing-masing. Artikel lebih lengkap dapat dibaca di majalah Pharmabiz.
Dalam majalah Pharmabiz edisi 01/2009 terdapat artikel mengenai poin-poin dan kiat untuk memajukan bisnis ritel, khususnya di bidang farmasi. Di sini dijelaskan juga tentang apa saja yang harus diperhatikan pada situasi yang serba "mengencangkan ikat pinggang" ini. Salah satunya adalah memahami peraturan pemerintah dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Jangan sampai bisnis jadi rugi karena tak mengerti seluk-beluk aturan bisnis di Indonesia. Poin lain yang juga sangat penting adalah pengembangan IT untuk membantu memaksimalkan kinerja perusahaan. Jadi, sebaiknya tidak ada lagi pebisnis farmasi yang gaptek, alias gagap teknologi. Kiat-kiat lainnya masih banyak dan tinggal disesuaikan dengan bisnis masing-masing. Artikel lebih lengkap dapat dibaca di majalah Pharmabiz.
tip: memilih alat timbang yang memenuhi syarat
17:23
Alat timbang merupakan barang wajib dalam industri farmasi. Biasanya, kita hanya memperhatikan aspek teknis alat timbang itu, seperti kapasitas maksimum dan kemampuan pembacaannya. Padahal, untuk lingkungan kerja yang "bersih", ternyata banyak hal yang harus diperhatikan. Lingkungan kerja bersih yang dimaksud adalah tempat yang tingkat polutannya (mikroba, debu, uap kimia, dan lain-lain) berada pada nilai rendah. Tempatnya berupa ruang yang tertutup sepanjang hari dengan pintu kedap udara dan udara di dalamnya harus disaring dengan filter HEPA/ULPA. Orang di dalamnya juga selalu menggunakan pakaian khusus, sarung tangan, penutup mulut dan rambut.
Nah, oleh sebab itu alat timbang di dalam ruang seperti ini tidak hanya harus akurat, tapi juga mudah "dibersihkan". Kenyataannya, kebanyakan alat timbang tidak dirancang secara spesifik untuk lingkungan "bersih". EU GMP Guide menetapkan alat timbang harus dibersihkan setiap selesai digunakan, untuk setiap penimbangan 1 bets formula. Tujuannya untuk mencegah perpindahan kontaminasi material ke 1 bets berikutnya.
Jadi sebelum membeli sebaiknya lakukan tip berikut:
1. Menghitung resolusi rasio kapasitas alat timbang
Caranya dengan membagi kapasitas maksimum dengan resolusi/kemampuan pembacaan. Jika nilainya kurang dari 30.000 berarti alat tersebut tingkat akurasinya masih belum memadai.
2. Mengamati bentuk dan struktur alat timbang
Semua alat timbang terlihat mudah dibersihkan, tapi ternyata belum tentu mudah. Sebaiknya pilih yang sedikit sudut dan celahnya, jangan lupa untuk mengangkat alat tambang tersebut sehingga terlihat seluruh bagiannya.
Bila ternyata belum memenuhi syarat, ada baiknya Anda mencari alternatif lainnya.
Nah, oleh sebab itu alat timbang di dalam ruang seperti ini tidak hanya harus akurat, tapi juga mudah "dibersihkan". Kenyataannya, kebanyakan alat timbang tidak dirancang secara spesifik untuk lingkungan "bersih". EU GMP Guide menetapkan alat timbang harus dibersihkan setiap selesai digunakan, untuk setiap penimbangan 1 bets formula. Tujuannya untuk mencegah perpindahan kontaminasi material ke 1 bets berikutnya.
Jadi sebelum membeli sebaiknya lakukan tip berikut:
1. Menghitung resolusi rasio kapasitas alat timbang
Caranya dengan membagi kapasitas maksimum dengan resolusi/kemampuan pembacaan. Jika nilainya kurang dari 30.000 berarti alat tersebut tingkat akurasinya masih belum memadai.
2. Mengamati bentuk dan struktur alat timbang
Semua alat timbang terlihat mudah dibersihkan, tapi ternyata belum tentu mudah. Sebaiknya pilih yang sedikit sudut dan celahnya, jangan lupa untuk mengangkat alat tambang tersebut sehingga terlihat seluruh bagiannya.
Bila ternyata belum memenuhi syarat, ada baiknya Anda mencari alternatif lainnya.
proyeksi industri farmasi 2009
16:27
Tahun 2008 berlalu dengan meninggalkan sejumlah masalah yang belum selesai bagi lingkungan usaha farmasi. Naik turunnya kondisi ekonomi dalam negeri membuat daya beli rakyat menurun, sementara harga obat terus naik. Ekonomi luar negeri yang hancur-hancuran di akhir semester 2008 juga menambah panjang daftar masalah. Jadi, bagaimana kondisinya nanti di tahun 2009?
Majalah Pharmabiz mewawancarai salah seorang petinggi di Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi, Masrizal A Syarief. Beliau membagikan pendapatnya mengenai dunia bisnis farmasi di tahun 2009. Menurutnya, banyak perubahan terjadi karena adanya Permenkes 1010/Menkes/PER/XI/2008 tentang pembatasan registrasi obat. Itu baru satu hal, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi usaha farmasi. Itulah sebabnya pelaku industri harus segera merancang ulang strategi bisnisnya. Wawancara yang mengisnpirasi ini dapat disimak dalam majalah Pharmabiz edisi 12/2008 halaman 18.
Majalah Pharmabiz mewawancarai salah seorang petinggi di Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi, Masrizal A Syarief. Beliau membagikan pendapatnya mengenai dunia bisnis farmasi di tahun 2009. Menurutnya, banyak perubahan terjadi karena adanya Permenkes 1010/Menkes/PER/XI/2008 tentang pembatasan registrasi obat. Itu baru satu hal, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi usaha farmasi. Itulah sebabnya pelaku industri harus segera merancang ulang strategi bisnisnya. Wawancara yang mengisnpirasi ini dapat disimak dalam majalah Pharmabiz edisi 12/2008 halaman 18.
supply chain obat di Indonesia
16:14
Jaringan suplai obat memainkan peran penting dalam bisnis farmasi di Indonesia. Ramainya pemain yang memasuki area ini seolah memperlihatkan adanya profit yang menggiurkan. Bahkan kelompok usaha pendukung farmasi yang sedang tumbuh pun tergiur untuk mengadu untung ke pasar yang kompetisinya sangat ketat ini. Akibatnya distribusi obat semakin ramai oleh pelaku dan menambah panjang jalur distribusi yang pada akhirnya memicu permasalahan yang kompleks.
Lantas bagaimana cara membuat jalur distribusi agar lebih efisien. Pertama-tama tentu kita harus memahami pokok permasalahannya dulu. Semua telah dibahas lengkap dan detail dalam majalah Pharmabiz. Salah satunya adalah dengan memangkas rantai suplai yang terlalu panjang. Karena di disitulah tempat munculnya masalah-masalah baru yang pasti membuat harga obat juga sampai di konsumen dengan harga yang terlampau tinggi. Solusi-solusi yang tepat bagi pelaku industri farmasi mengenai masalah rantai suplai obat ini dapat dibaca di majalah Pharmabiz edisi 12/2008 yang lalu.
Lantas bagaimana cara membuat jalur distribusi agar lebih efisien. Pertama-tama tentu kita harus memahami pokok permasalahannya dulu. Semua telah dibahas lengkap dan detail dalam majalah Pharmabiz. Salah satunya adalah dengan memangkas rantai suplai yang terlalu panjang. Karena di disitulah tempat munculnya masalah-masalah baru yang pasti membuat harga obat juga sampai di konsumen dengan harga yang terlampau tinggi. Solusi-solusi yang tepat bagi pelaku industri farmasi mengenai masalah rantai suplai obat ini dapat dibaca di majalah Pharmabiz edisi 12/2008 yang lalu.
strategi sukses untuk industri farmasi
16:28
Industri farmasi sangatlah dinamis, selalu berinovasi dan senantiasa memperbarui. Strategi yang ideal untuk karakter bisnis seperti ini memang tidak bisa disamaratakan seperti jenis industri lain. Strategi yang dulu pernah berhasil belum tentu sesuai untuk kondisi saat ini. Bahkan bagi sesama industri barangkali punya strategi khusus. Yang ideal menurut satu perusahaan farmasi belum tentu cocok untuk perusahaan farmasi yang lain. Oleh sebab itu, setiap perusahaan hendaknya selalu meng-update diri dan rajin mencari cara-cara baru untuk mengelola usaha mereka. Para ahli industri farmasi sedunia menulis "SAP for Life Science in The Pharmaceutical Industry: Strategy for Success". Berikut adalah ringkasan dari tulisan tersebut.
1. Mengurangi Resiko-resiko
-gunakan teknologi sebagai bisnis inti dan mengintegrasikan informasi untuk mengecilkan resiko kesalahan (misalnya pada urusan administrasi) dan meminimalkan waktu-waktu yang terbuang
-meningkatkan penjualan dan mind-share: analisis segmentasi pasar, tingkatkan self service pelanggan, jaga hubungan dengan para dokter.
2. Mengefisiensikan Proses
-hilangkan bagian-bagian dalam organisasi yang kurang efektif agar proses kerja dapat lebih efisien
-terapkan business intelegence untuk mengefisiensikan operasional penjualan
-outsourcing untuk kegiatan non-inti sehingga perusahaan bisa berkonsentrasi pada kegiatan inti.
3. Transformasi Bisnis
-perbaiki kemampuan kolaborasi untuk mengembangkan pasar yang baru
-gunakan teknologi informasi untuk mendukung organisasi riset
-gunakan RFID (radio frequency identification) untuk mengintegrasikan sistem-sistem dan berbagi informasi secara global
Semua strategi di atas umumnya telah berbasis teknologi dengan akses informasi yang mudah. Namun, pada dasarnya berisi solusi untuk menghadapi kompleksnya regulasi, efisiensi biaya, dan peningkatkan produktivitas. Nah, pertanyaannya kini sudah siapkah pelaku industri farmasi di Indonesia untuk menerapkannya?
1. Mengurangi Resiko-resiko
-gunakan teknologi sebagai bisnis inti dan mengintegrasikan informasi untuk mengecilkan resiko kesalahan (misalnya pada urusan administrasi) dan meminimalkan waktu-waktu yang terbuang
-meningkatkan penjualan dan mind-share: analisis segmentasi pasar, tingkatkan self service pelanggan, jaga hubungan dengan para dokter.
2. Mengefisiensikan Proses
-hilangkan bagian-bagian dalam organisasi yang kurang efektif agar proses kerja dapat lebih efisien
-terapkan business intelegence untuk mengefisiensikan operasional penjualan
-outsourcing untuk kegiatan non-inti sehingga perusahaan bisa berkonsentrasi pada kegiatan inti.
3. Transformasi Bisnis
-perbaiki kemampuan kolaborasi untuk mengembangkan pasar yang baru
-gunakan teknologi informasi untuk mendukung organisasi riset
-gunakan RFID (radio frequency identification) untuk mengintegrasikan sistem-sistem dan berbagi informasi secara global
Semua strategi di atas umumnya telah berbasis teknologi dengan akses informasi yang mudah. Namun, pada dasarnya berisi solusi untuk menghadapi kompleksnya regulasi, efisiensi biaya, dan peningkatkan produktivitas. Nah, pertanyaannya kini sudah siapkah pelaku industri farmasi di Indonesia untuk menerapkannya?
bila rumah sakit mengiklankan diri
15:56
Banyak kalangan bersilang pendapat tentang pantas atau tidaknya sebuah rumah sakit mengiklankan diri. Di satu sisi rumah sakit tidak patut beriklan karena alasan moral dan akuntabilitas pesan iklan yang disampaikan. Beriklan sama saja dengan memposisikan pelayanan kesehatan sebagai produk "jualan" dan pasien sebagai suatu produk komoditi. Inilah yang bagi sebagian orang dianggap melanggar etika.
Dilema ini dibahas dalam artikel healthcare review majalah Pharma Biz edisi 12/2008. Pada artikel tersebut terdapat beberapa pendapat dan solusi. Rumah sakit merasa perlu menyampaikan informasi pada masyarakat tentang fasilitas dan pelayanan yang dipunyai. Lagipula, rumah sakit juga merupakan pelaku industri yang mesti bersaing di pasar bebas. Tanpa promosi, tentu sebuah rumah sakit tidak akan dikenal masyarakat.
Dilema ini dibahas dalam artikel healthcare review majalah Pharma Biz edisi 12/2008. Pada artikel tersebut terdapat beberapa pendapat dan solusi. Rumah sakit merasa perlu menyampaikan informasi pada masyarakat tentang fasilitas dan pelayanan yang dipunyai. Lagipula, rumah sakit juga merupakan pelaku industri yang mesti bersaing di pasar bebas. Tanpa promosi, tentu sebuah rumah sakit tidak akan dikenal masyarakat.
jejaring sosial dan bisnis kesehatan
16:42
Bagi pengguna internet, jejaring sosial seperti facebook atau friendster merupakan barang wajib. Tanpa menjadi member, rasanya kita seperti terlepas dari jaringan perkawanan alias "nggak gaul". Begitu besarnya pengaruh jejaring sosial sehingga menjadi ikon penting dalam dekade ini. Bukan cuma Presiden Obama yang "dimenangkan" oleh besarnya jaringan manusia di dunia maya. Bisnis kesehatan ternyata tak luput dari hingar bingar jejaring sosial internet. Business Week Indonesia (Desember 2008) menulis dalam salah satu artikelnya tentang kehebatan beberapa jejaring sosial di internet sehingga diperkirakan dapat mengubah cara meriset penyakit serta proses pengembangan obat-obatan. Hal ini tentunya berpengaruh juga pada bisnis kesehatan secara keseluruhan.
Bagaimana ini semua bisa terjadi? Inilah fakta menarik itu. Bayangkan bila begitu banyak pasien di seluruh dunia berkumpul dalam satu forum diskusi (di dunia maya tentunya), lalu mereka saling curhat tentang penyakitnya. Maka yang terjadi adalah sang moderator forum bisa mengumpulkan data lengkap tentang satu penyakit dalam waktu singkat (dibandingkan dengan riset yang memerlukan waktu bertahun-tahun). Tapi, apakah datanya akurat? Memang ini masih jadi kendala. Sejauh ini, para pasien atau mantan pasien menceritakan sejarah penyakitnya dengan sangat mendetail. Tak hanya penyakit, mereka juga berbagi informasi tentang dokter, rumah sakit, asuransi kesehatan, jenis obat-obatan, peralatan kesehatan, dan lain-lain. Bahkan pemiliki situs (misalnya PatientsLikeMe di Amerika) telah menerbitkan buku-buku (dengan menghilangkan identitas, merek, dan lainnya) tanpa harus mengumpulkan data terlebih dahulu.Namun, lembaga-lembaga kesehatan resmi masih belum mau menerbitkannya sebab dianggap data tersebut tidak ilmiah. Wah, padahal ini fakta yang terjadi di masyarakat, lho!
Pasien-pasien yang saling bercerita ini barangkali merasa lebih nyaman berbagi dengan sesama penderita daripada dengan dokter yang kadang-kadang kurang bisa berempati dengan pasien. Bagi industri kesehatan, meskipun jejaring sosial belum "berbau" ilmiah, sebaiknya jangan pula dianggap tidak penting. Sebab justru dari situlah produsen bisa mengetahui respon konsumen dari berbagai kalangan. Kalau memang datanya tidak ilmiah, barangkali jutaan data tadi perlu diteliti ulang sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan berguna bagi masyarakat.
Bagaimana ini semua bisa terjadi? Inilah fakta menarik itu. Bayangkan bila begitu banyak pasien di seluruh dunia berkumpul dalam satu forum diskusi (di dunia maya tentunya), lalu mereka saling curhat tentang penyakitnya. Maka yang terjadi adalah sang moderator forum bisa mengumpulkan data lengkap tentang satu penyakit dalam waktu singkat (dibandingkan dengan riset yang memerlukan waktu bertahun-tahun). Tapi, apakah datanya akurat? Memang ini masih jadi kendala. Sejauh ini, para pasien atau mantan pasien menceritakan sejarah penyakitnya dengan sangat mendetail. Tak hanya penyakit, mereka juga berbagi informasi tentang dokter, rumah sakit, asuransi kesehatan, jenis obat-obatan, peralatan kesehatan, dan lain-lain. Bahkan pemiliki situs (misalnya PatientsLikeMe di Amerika) telah menerbitkan buku-buku (dengan menghilangkan identitas, merek, dan lainnya) tanpa harus mengumpulkan data terlebih dahulu.Namun, lembaga-lembaga kesehatan resmi masih belum mau menerbitkannya sebab dianggap data tersebut tidak ilmiah. Wah, padahal ini fakta yang terjadi di masyarakat, lho!
Pasien-pasien yang saling bercerita ini barangkali merasa lebih nyaman berbagi dengan sesama penderita daripada dengan dokter yang kadang-kadang kurang bisa berempati dengan pasien. Bagi industri kesehatan, meskipun jejaring sosial belum "berbau" ilmiah, sebaiknya jangan pula dianggap tidak penting. Sebab justru dari situlah produsen bisa mengetahui respon konsumen dari berbagai kalangan. Kalau memang datanya tidak ilmiah, barangkali jutaan data tadi perlu diteliti ulang sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan berguna bagi masyarakat.
tren desain kemasan obat
16:13
Saat ini, penampilan sebuah produk tidak bisa dianggap sepele, termasuk produk-produk kesehatan. Obat, misalnya--meskipun khasiat obat tetap yang utama--jika terdapat beberapa pilihan obat OTC dengan kualitas dan harga yang sama, tentu konsumen akan memilih produk dengan daya tarik visual yang baik. Kemasan di sini bukan cuma "bungkus" saja, tapi termasuk penjelasan tentang obat yang lengkap, komunikatif/mudah dimengerti, material yang mencerminkan kebersihan/kesehatan, dan bahkan tata letak gambar ataupun tulisan dalam kemasan. Nah, setiap pelaku industri farmasi yang ingin produknya dipilih oleh konsumen tentu tidak boleh mengabaikan aspek-aspek tersebut.
Penting bagi industri farmasi untuk mengenal lebih dalam tentang desain kemasan, jenis material kemasan, dan berbagai strategi untuk mempengaruhi emosi konsumen--biasanya branding image ini dianggap hanya urusan orang-orang pekerja advertising. Paling tidak si produsen obat memahami kebutuhan konsumen saat ini dan bisa mengambil keputusan yang tepat saat menentukan seperti apa "tampang" produk yang akan dipasarkan. Mengenai teknologi kemasan obat dan strategi mendesain kemasan, telah dijelaskan dalam majalah Pharmabiz edisi 12/2008 halaman 22. Perlu diingat pula, desain kemasan yang dianggap berhasil bukan karena terlihat "cantik" saja, namun juga fungsional. Tanpa kemudahan fungsi, akhirnya tampilan produk itu cuma sekadar kosmetika.
Penting bagi industri farmasi untuk mengenal lebih dalam tentang desain kemasan, jenis material kemasan, dan berbagai strategi untuk mempengaruhi emosi konsumen--biasanya branding image ini dianggap hanya urusan orang-orang pekerja advertising. Paling tidak si produsen obat memahami kebutuhan konsumen saat ini dan bisa mengambil keputusan yang tepat saat menentukan seperti apa "tampang" produk yang akan dipasarkan. Mengenai teknologi kemasan obat dan strategi mendesain kemasan, telah dijelaskan dalam majalah Pharmabiz edisi 12/2008 halaman 22. Perlu diingat pula, desain kemasan yang dianggap berhasil bukan karena terlihat "cantik" saja, namun juga fungsional. Tanpa kemudahan fungsi, akhirnya tampilan produk itu cuma sekadar kosmetika.